Limfoma
Minggu, 07 Juli 2019
Limfoma adalah kanker yang muncul dalam sistem limfatik yang menghubungkan kelenjar limfe atau kelenjar getah bening di seluruh tubuh. Sistem limfatik termasuk bagian penting dalam sistem kekebalan tubuh manusia.

Sel-sel darah putih limfosit dalam sistem limfatik akan membantu pembentukan antibodi tubuh untuk memerangi infeksi. Tetapi jika sel-sel limfosit B dalam sistem limfatik diserang kanker, sistem kekebalan tubuh akan menurun sehingga rentan mengalami infeksi.
Jenis-jenis Limfoma
Kanker ini dapat dikategorikan dalam 2 jenis, yaitu limfoma Hodgkin dan limfoma non-Hodgkin. Perbedaan utamanya terletak pada jenis sel limfosit yang diserang kanker dan dapat diketahui melalui pemeriksaan di bawah mikroskop.
Limfoma digolongkan dalam jenis Hodgkin apabila terdeteksi adanya sel abnormal Reed-Sternberg dalam pemeriksaan. Sementara limfoma tanpa sel abnormal tersebut termasuk dalam kategori limfoma non-Hodgkin.
Limfoma non-Hodgkin lebih sering terjadi dibandingkan limfoma Hodgkin. Diperkirakan hanya sekitar 20 persen dari kasus limfoma yang merupakan jenis Hodgkin.
Gejala Limfoma
Gejala utama yang dialami penderita limfoma adalah tumbuhnya benjolan. Benjolan ini tidak terasa sakit dan umumnya muncul pada leher, ketiak, dan selangkangan.
Di samping benjolan, ada sejumlah gejala lain yang mungkin dirasakan oleh penderita limfoma. Beberapa di antaranya adalah:
Konsultasi pada dokter sebaiknya dilakukan apabila seseorang mendapati gejala-gejala tersebut. Memiliki benjolan memang tidak berarti seseorang pasti menderita limfoma, tapi sebaiknya tetap menjalani pemeriksaan sedini mungkin.
Jenis-jenis Limfoma
Kanker ini dapat dikategorikan dalam 2 jenis, yaitu limfoma Hodgkin dan limfoma non-Hodgkin. Perbedaan utamanya terletak pada jenis sel limfosit yang diserang kanker dan dapat diketahui melalui pemeriksaan di bawah mikroskop.
Limfoma digolongkan dalam jenis Hodgkin apabila terdeteksi adanya sel abnormal Reed-Sternberg dalam pemeriksaan. Sementara limfoma tanpa sel abnormal tersebut termasuk dalam kategori limfoma non-Hodgkin.
Limfoma non-Hodgkin lebih sering terjadi dibandingkan limfoma Hodgkin. Diperkirakan hanya sekitar 20 persen dari kasus limfoma yang merupakan jenis Hodgkin.
Gejala Limfoma
Gejala utama yang dialami penderita limfoma adalah tumbuhnya benjolan. Benjolan ini tidak terasa sakit dan umumnya muncul pada leher, ketiak, dan selangkangan.
Di samping benjolan, ada sejumlah gejala lain yang mungkin dirasakan oleh penderita limfoma. Beberapa di antaranya adalah:
- Selalu merasa lelah.
- Berkeringat pada malam hari.
- Demam dan menggigil.
- Lebih sering mengalami infeksi.
- Batuk yang tidak kunjung sembuh atau terengah-engah.
- Gatal-gatal di seluruh tubuh.
- Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
- Tidak nafsu makan.
- Perdarahan yang parah, misalnya haid dengan volume darah berlebihan atau mimisan.
- Pembengkakan pada perut.
- Sakit perut.
- Batuk atau gangguan pernapasan.
- Sakit dada.
Konsultasi pada dokter sebaiknya dilakukan apabila seseorang mendapati gejala-gejala tersebut. Memiliki benjolan memang tidak berarti seseorang pasti menderita limfoma, tapi sebaiknya tetap menjalani pemeriksaan sedini mungkin.
Penyebab dan Faktor Risiko Limfoma
Limfoma terjadi karena adanya perubahan atau mutasi pada DNA sel-sel limfosit sehingga pertumbuhannya menjadi tidak terkendali. Penyebab di balik mutasi tersebut belum diketahui secara pasti.
Meski demikian, ada beberapa hal yang diduga dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena limfoma Hodgkin. Faktor-faktor risiko tersebut meliputi:
- Usia. Sebagian besar limfoma Hodgkin terjadi pada penderita yang berusia 15-30 tahun dan lansia di atas 55 tahun. Sementara risiko limfoma non-Hodgkin akan meningkat seiring usia, khususnya lansia berusia di atas 60 tahun.
- Pernah terpapar virus Epstein-Barr atau EBV. Virus ini menyebabkan demam kelenjar. Orang yang pernah mengalami demam kelenjar lebih berisiko mengalami limfoma Hodgkin.
- Sistem kekebalan tubuh yang lemah, misalnya karena menderita HIV/AIDS atau menggunakan obat imunosupresan.Faktor keturunan. Risiko seseorang untuk terkena limfoma akan meningkat jika memiliki anggota keluarga inti (ayah, ibu, atau saudara kandung) yang menderita jenis kanker yang sama.
- Mengalami obesitas. Faktor kelebihan berat badan lebih berpengaruh pada wanita dibandingkan pada pria, dalam meningkatkan risiko limfoma.
Diagnosis Limfoma
Langkah awal dalam menentukan diagnosis, adalah lewat anamnesa untuk menanyakan gejala penyakit, riwayat penyakit sebelumnya dan riwayat penyakit dalam keluarga, serta melalui pemeriksaan fisik.
Untuk memastikan diagnosis, dapat dilakukan serangkaian pemeriksaan tambahan yang meliputi:
- Pemeriksaan darah dan urine. Melalui pemeriksaan ini, dokter akan mengetahui kondisi kesehatan pasien secara umum.
- Foto Rontgen, CT scan, MRI, dan PET scan. Pemeriksaan ini digunakan untuk melihat tingkat penyebaran limfoma.
- Biopsi untuk mengambil sampel kelenjar getah bening yang membengkak serta sumsum tulang.
- Rontgen dada guna memeriksa apakah ada penyebaran limfoma ke paru-paru atau tidak.
Stadium Limfoma
Biopsi, foto Rontgen, CT scan, MRI, dan PET scan juga dapat membantu dalam menentukan stadium serta tingkat perkembangan limfoma. Berikut adalah penjelasan singkat untuk stadium-stadium dalam limfoma.
- Stadium 1 – kanker menyerang salah satu kelompok kelenjar limfe.
- Stadium 2 – kanker menyerang 2 kelompok kelenjar limfe atau menyebar ke 1 organ di sekitar kelenjar limfe tersebut, tapi hanya terbatas pada tubuh bagian atas atau bawah saja, dengan diafragma sebagai batasan.
- Stadium 3 – kanker menyebar ke kelompok kelenjar limfe pada bagian tubuh atas dan bagian tubuh bawah, dengan diafragma sebagai batasan.
- Stadium 4 – kanker sudah menyebar melalui sistem limfatik dan masuk ke berbagai organ atau sumsum tulang.
Pengobatan Limfoma
Pengobatan limfoma tidak sama bagi tiap penderita. Cara penanganan yang terbaik ditentukan berdasarkan kondisi kesehatan, usia, jenis, dan stadium limfoma pasien.
Khusus untuk limfoma non-Hodgkin, tidak semua kasus membutuhkan penanganan medis secepatnya. Apabila kanker yang diderita termasuk jenis yang lambat berkembang, dokter mungkin akan menyarankan untuk menunggu dan melihat perkembangannya terlebih dahulu. Bahkan ada limfoma non-Hodgkin stadium dini dengan ukuran kecil yang dapat diatasi melalui prosedur pengangkatan pada saat dilakukan biopsi, sehingga pasien tidak membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Langkah utama dalam pengobatan limfoma adalah dengan kemoterapi yang dapat diberikan melalui infus atau dalam bentuk obat yang diminum. Terapi ini juga dapat dikombinasikan dengan:
- Radioterapi.
- Obat-obatan steroid.Terapi biologis, contohnya obat rituximab. Obat ini akan menempelkan diri pada sel-sel kanker lalu merangsang sistem kekebalan tubuh untuk menyerang dan membunuhnya.
- Transplantasi sumsum tulang. Langkah ini dibutuhkan bagi penderita limfoma yang mengalami kerusakan sumsum tulang akibat kemoterapi dosis tinggi.
Seperti halnya pada pengobatan kanker lain, pengobatan limfoma juga memiliki efek samping. Beberapa efek samping yang umumnya dialami oleh penderita meliputi kelelahan, diare, mual, serta muntah.
Selain itu, penurunan sistem kekebalan tubuh, risiko ketidaksuburan, dan potensi munculnya kanker lain juga bisa menjadi komplikasi dari limfoma sekaligus efek samping dari pengobatannya. Risiko terjadinya penyakit lain juga dapat meningkat, contohnya penyakit jantung, ginjal, diabetes, atau katarak.
Pastikan penderita melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, selama maupun setelah menjalani pengobatan. Langkah ini dilakukan agar kondisi kesehatan pasien serta kemungkinan kambuhnya kanker bisa dipantau.